Share |
| Rabu, 20 Januari 2010

FTA Hambat Ritel

PERJANJIAN perdagangan bebas (Free Trade Agreement-FTA) antara Indonesia dan China, dinilai menghambat perkembangan ritel nasional.

Menurut Abraham Ibnu, kalau barang asing seperti dari China bisa bebas masuk pasar nasional, maka perkembangan bisnis ritel di sini perlahan akan melambat.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jatim ini menjelaskan, perdagangan bebas melalui FTA ini bisa menurunkan kinerja ritel nasional. “Misalnya, sektor penjualan produk fashion dan makanan minuman,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, ia menilai, China memang kuat memasarkan produk fashion. Apalagi, mereka memiliki sejumlah mesin produksi berteknologi canggih yang dapat menghasilkan produk dalam jumlah besar.

Selain itu, kata Abraham Ibnu, China dikenal sebagai negara yang pandai melihat prospek pasar. Contohnya, ketika produk fashion motif batik Indonesia laris di pasaran, China gencar membanjiri pasar nasional dengan produk serupa.

Padahal, dilihat dari sisi bahan baku, kainnya kurang berkualitas tidak seperti milik Indonesia. Apalagi, banyak konsumen kita mengeluh tidak nyaman dan gatal setelah mengenakan produk itu.

“Kalau situasi ini tetap dibiarkan oleh pemerintah, saat FTA terjadi pengusaha batik nasional yang memiliki cabang di Jawa Timur seperti Danarhadi dan Mirota, bisa terpukul,” katanya.

Belum lagi, upaya promosi dan harga produk kita dengan China jelas kalah bersaing. Mereka berani membanting harga asal penjualan meningkat, sedangkan pengusaha nasional tidak.

Di sektor makanan dan minuman, tambah dia, kalau FTA diberlakukan maka ritel raksasa seperti Carrefour akan lebih banyak menjual produk asing.

“Namun, kita tidak perlu khawatir. Estimasinya, produk asing yang masuk di sana tidak sampai 10 persen atau antara 2 persen hingga 3 persen dari total produk yang terpajang,” kata Abraham Ibnu. (antara/27122009)

Kirim komentar anda

 
Nama Lengkap : (wajib diisi)
Alamat Email : (wajib diisi)
Situs Anda :