Share |
| Selasa, 1 Desember 2009

Gula Lokal Tergerus

HARGA gula lokal makin tergerus. Isyarat tersebut setidaknya tercermin dalam tender 3.040 ton gula milik petani binaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI di Surabaya, Selasa (10/11), yang jauh lebih rendah dibanding 3 pekan sebelumnya (Rp 8.200 per kg).

Dalam  tender yang dimenangkan PT Arta Agro Sentosa, terbentuk 2 harga yakni Rp 7.836,50 per kg untuk 2.910 ton eks produksi pabrik gula (PG) wilayah Pasuruan ke timur dan Rp 7.915,50 per kg untuk 130 ton produksi PG wilayah Madiun.

Menurut Sekretaris Perusahaan PTPN XI, Adig Suwandi, salah satu penyebab turunnya harga adalah kebijakan penurunan bea masuk yang diberlakukan  pemerintah. Raw sugar dari Rp 550 per kg menjadi Rp 150 per kg.

Dengan besaran bea masuk yang baru itu praktis harga gula rafinasi berbahan baku raw sugar impor menjadi lebih rendah.  “Dalam praktik, perdagangan, harga gula rafinasi menjadi acuan bagi pedagang ketika melakukan transaksi, baik saat beli maupun jual. Dan itu yang bikin jatuh harga gula lokal,” kata Adig Suwandi.

Masalahnya, pada saat bersamaan, harga gula dunia masih relatif tinggi. Gula untuk pengapalan Desember 2009 pada penutupan Bursa Berjangka London diperdagangkan pada harga 574,80 dolar AS per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium).

Sedangkan harga pengapalan untuk tahun 2010, masing-masing bulan Maret 575,50 dolar AS per ton FOB, bulan Mei 770,40 dolar AS per ton FOB, bulan Agustus 541,70 dolar AS per ton FOB, dan untuk bulan Oktober  mencapai 515,20 dolar AS per ton FOB.

“Melihat dinamika harga gula dunia seperti itu tampaknya masih diperlukan harga pokok penyanggan (floor price) untuk gula petani tahun 2010 mendatang. Harga tersebut merupakan batas minimal atau referensi dimana petani tidak merugi,” ucap Adig.

Dalam penetapannya pemerintah harus berangkat dari kondisi obyektif di lapangan.  Biaya produksi usaha tani tebu kini mengalami kenaikan luar biasa, khususnya yang berasal dari nilai sewa lahan dan
pengurangan subsidi pupuk yang berimplikasi terhadap naiknya harga agroinputs tersebut pada level petani. “Sewa lahan dan biaya pupuk memberikan kontribusi sekitar 50% biaya produksi,” tukas Adig.

Sebelum floor price ditetapkan, papar Adig, Dewan Gula Indonesia (DGI) tetap harus menurunkan tim survai ke PG-PG sampling untuk menyiasati biaya pokok produksi. Dalam tim yang melibatkan 3 universitas yakni Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Brawijaya tetap dipertahankan.

“Untuk PG dilingkup PTPN XI yang menjadi sampling tahun 2009 lalu yakni PG Semboro (Jember), Gending (Probolinggo), dan Pagottan (Madiun) sebagai representasi 16 PG yang ada di bawah naungan korporasi,” tutur Adig Suwandi. (aam)

Kirim komentar anda

 
Nama Lengkap : (wajib diisi)
Alamat Email : (wajib diisi)
Situs Anda :