Share |
| Rabu, 30 September 2009

Kumpul-kumpul Berbuah Koperasi

APA yang dilakukan sejumlah wanita pengusaha dari beragam profesi di Surabaya ini patut diacungi jempol. Sebulan sekali mereka kumpul, rutin. Hasilnya, dari acara sederhana ini, berbuah positif.

Sekitar 20 wanita ini mendirikan koperasi guna membantu modal wirausaha-wirausaha kecil yang selama ini selalu kesulitan modal dan tak memiliki akses ke perbankan. Mulai perajin, pengusaha, dokter, pelukis hingga seniman.

Nama koperasi itu adalah Koperasi Perempuan Indonesia Maju. Resmi berdiri pertengahan September 2009. Mereka inilah motor penggerak, perintis, sekaligus penopang modal.

Ketua Dewan Penasehat Koperasi Perempuan Indonesia Maju, Hj Liliek Noer SH, mengungkapkan, banyak usaha kecil yang belum tersentuh perbankan. Padahal, mereka sangat membutuhkan demi pengembangan usahanya. “Ini yang akhirnya membuat kami berniat membantu mereka,” tandasnya.

Liliek mengungkapkan, di Surabaya dan sekitarnya, terdapat ratusan wirausaha kecil, khususnya yang dikelola kaum wanita, seperti pedagang kecil, produsen dan perajin, yang belum dilirik perbankan.

Mereka enggan berhubungan dengan perbankan karena beragam alasan, mulai prosedur rumit, hingga tidak dimilikinya agunan. Tidak sedikit yang akhirnya terjebak mencari kredit ke rentenir.

Liliek yang juga Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Surabaya menuturkan, ide dirintisnya koperasi ini, bermula ketika ia dan sejumlah aktivis perempuan melakukan kegiatan sosial. Banyak keluhan dari perajin dan pedagang terkait sulitnya mendapatkan modal.

Mengapa cenderung membiayai wirausaha dari kaum perempuan? “Karena ada semacam faktor ikatan batin. Kita tahu bagaimana keuletan dan perjuangan mereka ketika menjalankan usaha. Kalau soal risiko, semua pasti ada risiko. “Kita berangkat dari niat baik,” tutur Liliek.

Ketua Koperasi Perempuan Indonesia Maju. Diana Iriani menambahkan, akan mendaftarkan secara resmi koperasi bentukan ini agar segera mendapatkan badan hukum, sehingga bisa segera beroperasi sekitar Oktober 2009.

Tahap awal modal yang dikelola masih sedikit, sekitar Rp 100 juta, namun calon anggota koperasi yang telah mengajukan diri ada 45 orang. Meski begitu, ke depan diharapkan, koperasi ini bisa dipercaya pemerintah dan perbankan untuk mengelola dana mereka.

Soal bunga kredit, Diana yang pengusaha properti, didampingi Nunung Bachtiar sebagai Sekretaris dan Yenny Arifin sebagai bendahara berujar, sengaja tak membebani anggota dengan bunga tinggi, karena niatnya benar-benar berupaya meringankan beban mereka. “Hanya 2 persen per bulan,” pungkas Diana. (*)

Kirim komentar anda

 
Nama Lengkap : (wajib diisi)
Alamat Email : (wajib diisi)
Situs Anda :