MELAKUKAN kegiatan memasak bersama anak daapat menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Kegiatan mengenal bahan makanan, mengetahui proses memasak, serta hasil dari olahan bahan mentah menjadi bahan jadi, adalah proses pembelajaran yang berguna bagi anak-anak.
Anak-anak menjadi terasah kecerdasan kinestetiknya, seperti kemampuan memotek, mencabut, mengupas, memotong, maupun mengaduk. Selain itu, mengasah kecerdasan intrapersonal anak, yakni mampu dan berani mencoba menggabungkan rasa dan cara untuk menghasilkan masakan yang sesuai dengan keinginan mereka.
Cooking for Fun - Daycare Unilever memperkenalkan pada anak, memasak dengan cara sederhana dan menyenangkan sehingga dapat menumbuhkan percaya diri anak dan menjadi pengalaman yang bisa mereka ceritakan kepada orang lain.
Seperti Cooking for Fun oleh anak-anak karyawan Unilever pada program Daycare ini, mereka diajak berkreasi membuat pizza dan cokelat. Karena masih anak-anak, hal-hal yang diajarkan masih sederhana dan mudah, seperti menyusun toping pada pizza dan berkreasi dengan cokelat, buah dan biskuit.
Kegiatan berlangsung di lantai 6 Graha Unilever, dihadiri lebih dari 30 anak-anak usia sekitar 4 s/d 10 tahun dan dipandu oleh chef Widhi dari Unilever Food Solution.
Cooking for Fun adalah salah satu kegiatan dalam program Daycare 2009. Program ini merupakan wujud kepedulian PT Unilever Indonesia Tbk terhadap para karyawan dan keluarganya. Program Daycare (tempat pengasuhan anak) ini diperuntukan bagi usia 3 bulan s/d 10 tahun.
Fasilitas ini tersedia selama masa mudik Lebaran, yakni dari tanggal 14 September s/d 9 Oktober 2009. Tahun ini adalah tahun Ke-6 Unilever menyediakan fasilitas Daycare untuk karyawannya. 
Fasilitas Daycare bertujuan memberikan dukungan kepada karyawan/karyawati Unilever dalam merawat dan mengasuh anak-anak mereka selama masa mudik Lebaran, di mana para pekerja rumah tangga sedang cuti/mudik).
Joseph Bataona, Direktur Human Resources dan Corporate Relations PT Unilever Indonesia Tbk menjelaskan karyawan adalah aset utama perusahaan. “Kami selalu berkomitmen mendukung kesejahteraan karyawan dan keluarganya melalui berbagai fasilitas yang disediakan,” katanya dalam rilis kepada ritelonline Rabu (30/9/2009).
Untuk menambah vitalitas dalam kehidupan, Unilever bertekad menjadi perseroan yang mendahulukan kepentingan karyawan dan membantu karyawan mendapatkan lebih dari pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka. “Salah satu contohnya, adalah program pengasuhan anak (Daycare) ini,“ lanjut Joseph Bataona.
Dengan memanfaatkan fasilitas Daycare, karyawan yang memiliki anak tidak perlu menghadapi dilema antara bekerja dengan mengasuh anak saat tenaga rumah tangga tidak ada. ”Mereka tetap dapat bekerja dengan tenang sementara anak mendapat perawatan dan pengasuhan yang baik di lingkungan yang aman dan nyaman,” terang Joseph Bataona.
Daycare mempunyai tema yang berbeda setiap tahunnya. Tahun ini, anak-anak diajak untuk menulis/membuat rangkaian cerita yang idenya diperoleh dari kegiatan Daycare yang mereka ikuti.
Menulis merupakan salah satu bentuk seni. Dengan menulis, seorang anak bebas menuangkan idenya sesuai dengan kreativitas dan daya imajinasinya. Setiap anak mempunyai potensi untuk bisa menulis, tinggal bagaimana orangtua menggali potensi tersebut dan mengembangkannya.
Salah satu cara menggali potensi anak adalah dengan membiarkan si anak menumpahkan segala imajinasinya dalam cerita yang mereka ciptakan. Orangtua dan lingkungan sekitar bisa memberi stimulasi atau rangsangan kepada anak, agar mereka mendapat beragam informasi yang bisa dituangkan ke dalam tulisan.
Dengan menulis, anak bisa mengekspresikan dirinya dari apa yang ia alami di lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat menumbuhkan kecerdasan EQ (emotional) dan SQ (spiritual).
Dr Johny Sulistio, Senior Medical Advisor PT Unilever Indonesia Tbk, sekaligus ketua pelaksana program Daycare percaya anak-anak mempunyai kebutuhan pendidikan bukan hanya dari pendidikan formal atau akademik saja.
“Lebih dari fasilitas penitipan dan perawatan anak, Daycare Unilever 2009 dirancang memberikan pendidikan non formal, yakni pendidikan yang diperlukan untuk merangsang kecerdasan majemuk, daya imajinasi, dan emosional mereka,” katanya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan Daycare terdiri dari kegiatan khusus untuk anak-anak dan kegiatan untuk orang tua. Untuk anak-anak Daycare Unilever 2009 menyelenggarakan kegiatan indoor di kantor pusat Unilever (lantai dasar), salah satunya ada kegiatan memasak (cooking class) bersama chef dari Unilever Food Solution.
Untuk kegiatan outdoor anak-anak mendapat kesempatan berkunjung ke tempat-tempat wisata seperti Konservasi Hutan Bakau, Monumen Nasional (Monas), dan pabrik Wall’s di Cikarang.
“Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, diharapkan anak-anak mendapat pengalaman baru dan dapat bereksplorasi dengan berbagai jenis makanan, lingkungan sekitar, alam, dan mendapat pengalaman piknik bersama teman-teman sebaya. Pengalaman inilah yang nantnya akan mereka tuangkan ke dalam sebuah tulisan,” jelas dr Johny.
Selain itu untuk menambah wawasan dan memberikan inspirasi bagi anak dan orang tua, Daycare Unilever 2009 mengadakan acara talkshow bagi para orang tua dengan menghadirkan Clara Ng (penulis dan pembuat buku cerita anak) dan Nia Dinata (sutradara film yang peduli dengan anak-anak). 
“Semua kegiatan di Daycare dilakukan dengan cara sederhana dan menyenangkan serta dapat menumbuhkan skill of life pada anak, tanpa disadari ini merupakan program pembelajaran bagi kehidupan mereka kelak,” ungkap Johny.
Dalam menerapkan konsep pendidikan pada aktivitas Daycare ini, Unilever bekerjasama dengan Langkahku Child & Family Educare, sebuah lembaga pendidikan pra sekolah yang menerapkan konsep multiple intelegent (kecerdasan majemuk) yaitu mendidik anak cerdas dan berbakat.
”Kami berharap program serupa dapat terus kami lakukan dan selanjutnya dapat direplikasi oleh institusi atau perusahaan lain. Dengan menyediakan Daycare, perusahaan telah ikut menyejahterakan karyawan, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas mereka,” tutup Joseph Bataona. (*)


Home