Share |
| Selasa, 4 Agustus 2009

Celah Pasar untuk Produk Alam

PRODUK pangan dari bahan alam (pangan fungsional) yang berbasis tanaman obat di Indonesia memiliki potensi pasar sangat besar dan bisa diekspor ke luar negeri bila dikembangkan dengan baik. Di dalam negeri, total konsumsi pangan tahun 2007 lebih kurang Rp 1.000 triliun.

“Kebutuhan ini bisa untuk memenuhi ritel modern, toko-toko, apotek dan toko obat, pasar tradisional. Selain itu untuk hotel, restoran, katering, dan industri pangan, farmasi, jamu dan SPA,” kata Kepala Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Nurliani Bermawie.

Pangan fungsional banyak digunakan sebagai bahan baku dalam industri nasional, produk olahan yang diperdagangkan sebagian besar dalam bentuk  segar (utuh), simplisia, serbuk, ekstrak kental/oleoresin dan ekstrak kering.

Karakter produk pangan fungsional adalah memiliki ciri cita rasa (sensori), dapat dikonsumsi sebagai bagian pangan sehari-hari, berkhasiat, aman, mempunyai fungsi kesehatan, memperlancar/membantu proses metabolisme tubuh, memperbaiki fungsi organ, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Produk pangan nasional, kata Nurliani, bisa diekspor ke luar negeri khususnya ke negara Amerika Serikat (AS) yang dari tahun ke tahun kebutuhannya terus meningkat.

Tahun 2004, kebutuhan pangan fungsional AS hanya US$ 19 miliar, pada 2005 meningkat jadi US$ 29,39 miliar, 2005 naik lagi menjadi US$ 35,86 miliar dan pada 2009 diperkirakan meningkat jadi US$ 59,87 miliar.

“Ini merupakan potensi pasar yang besar yang bisa meningkatkan ekonomi rakyat Indonesia,” kata Nurliani dan menegaskan, sudah saatnya Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam produk pangan fungsional.

Selama ini, produk-produk pangan fungsional banyak membanjiri pasar dalam negeri. Masyarakat justru bangga menggunakannya. Padahal, Indonesia dikenal memiliki kekayaan tanaman obat luar biasa sebagai merupakan warisan nenek moyang ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

“Peninggalan sejarah kuno seperti lontar di Bali, buku-buku Jawa kuno, dan relief Candi Borobudur membuktikan penggunaan tanaman obat untuk kesehatan di masa lalu,” katanya.

Tanaman obat tersebut seperti kunyit asem,  beras kencur, mengkudu, temulawak, jahe, cabe puyang dan lainnya. Selama ini, tanaman obat Indonesia tidak berkembang karena belum didukung penelitian ilmiah yang membutuhkan dana besar.

Bahkan, sejumlah negara mulai mematenkan tanaman-tanaman obat asli Indonesia setelah melakukan penelitian dan pengembangan terhadap tanaman obat itu. Indonesia mesti mengembangkan pangan fungsional dengan skala industri yang lebih baik ke depan. (antara/04062009)

Kirim komentar anda

 
Nama Lengkap : (wajib diisi)
Alamat Email : (wajib diisi)
Situs Anda :